JAKARTA - Kini, teknik yang memanfaatkan bidang kecerdasan buatan (AI) dapat memungkinkan dokter untuk memprediksi bagaimana tumor kanker akan bermutasi dan memungkinkan mereka mempersonalisasi perawatan setiap pasien lebih dini.

 

Sebuah tim peneliti dari Institute of Cancer Research London (ICR) dan University of Edinburgh, Inggris, telah menemukan metode baru yang disebut evolusi berulang pada kanker, juga dikenal sebagai Revolver (Repeated Evolution of Cancer).

 

Metode ini menggunakan pendekatan pembelajaran mesin untuk menemukan pola mutasi DNA dalam kanker dan menggunakan informasi tersebut untuk memperkirakan perubahan genetik di masa depan.

 

Para peneliti mengatakan, sifat tumor yang selalu berubah adalah salah satu tantangan terbesar dalam mengobati kanker. Sebab, terkadang kanker berevolusi menjadi bentuk yang resistan terhadap obat-obatan.

 

Menurut Centers for Disease Control (CDC), di antara penyakit yang terdaftar sebagai penyebab utama kematian, kanker menduduki peringkat kedua dengan 595.930 kasus di Amerika Serikat saja untuk tahun 2015.

 

Dengan informasi ini, kemampuan melacak pertumbuhan sel kanker secara akurat akan menjadi sangat penting untuk meningkatkan kemungkinan bertahan hidup. Untuk mencapai hasil tersebut, tim peneliti menerapkan teknik sekuensing multi-wilayah atas empat jenis kanker, yaitu kolorektal, payudara, ginjal, dan paru-paru, tiga di antaranya merupakan bentuk yang paling umum menurut World Cancer Research Fund.

 

Penulis utama studi, Andrea Sottoriva, dari ICR mengatakan, “Dengan alat ini kami berharap untuk menghapus salah satu kartu truf kanker—perkembangan yang tak terduga, tanpa kita tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.”

 

Kepala eksekutif ICR, Paul Workman, menambahkan, “Pendekatan baru yang menggunakan AI ini dapat memungkinkan pengobatan untuk dipersonalisasi dengan cara yang lebih rinci dan pada tahap awal menyesuaikannya dengan karakteristik masing-masing tumor.”

 

Para peneliti menganalisis 768 sampel tumor dari 178 pasien yang dilaporkan dalam studi sebelumnya untuk membuat Revolver. Mereka menganalisis data dalam masing-masing jenis kanker untuk mendeteksi dan membandingkan perubahan pada setiap tumor.

 

Dengan mengidentifikasi pola pengulangan dan menggabungkannya dengan pengetahuan biologi serta evolusi kanker yang sudah ada, para ilmuwan pun dapat memprediksi masa depan perkembangan tumor.

 

Jika tumor dengan pola tertentu ditemukan mengembangkan resistansi terhadap pengobatan tertentu, Revolver dapat digunakan untuk memprediksi apakah pasien akan mengembangkan resistansi di masa depan.

 

Tim juga menemukan hubungan antara urutan tertentu dari mutasi tumor berulang dan kemungkinan kelangsungan hidup pasien.

 

Hal ini menunjukkan bahwa pola mutasi DNA yang berulang dapat digunakan sebagai indikator perawatan selanjutnya dan membantu membentuk terapi perawatan masa depan.

 

Sebagai contoh, para peneliti menemukan bahwa tumor payudara yang memiliki urutan kesalahan dalam materi genetik yang mengkode protein penekan tumor p53, diikuti oleh mutasi pada kromosom 8, bertahan dalam waktu yang lebih sedikit dibandingkan dengan lintasan perubahan genetik serupa lainnya.

 

"Kami telah mengembangkan alat kecerdasan buatan yang dapat membuat prediksi tentang langkah-langkah masa depan dalam evolusi tumor berdasarkan pola mutasi tertentu yang sejauh ini tetap tersembunyi dalam kumpulan data yang kompleks", kata Sottoriva.

 

"Dengan memberi kita gambaran masa depan, kita berpotensi menggunakan alat AI ini untuk campur tangan pada tahap awal, memprediksi langkah selanjutnya dalam pengobatan kanker."

 

Rincian tentang penelitian ini muncul dalam makalah berjudul "Detecting repeated cancer evolution from multi-region tumor sequencing data", yang diterbitkan di jurnal Nature Methods.

 

Source : https://beritagar.id/artikel/sains-tekno/teknik-baru-ai-dapat-memprediksi-pertumbuhan-kanker