JakartaRobot di masa depan bakal diprediksi bakal memiliki emosi seperti manusia.

 

Prediksi ilmiah tersebut tertuang dalam jurnal penelitian ilmuwan Cardiff University dan MIT yang dipublikasikan belum lama ini.

 

Dalam laporan yang dilansir Ubergizmo, Minggu (9/9/2018), penelitian mengungkap kalau jenis emosi yang hadir di dalam robot nantinya akan berbentuk berupa perasaan, dan menstimulasi pikiran yang muncul sehingga mengarah ke arah prasangka.

 

Penlitian ini diujicoba dalam simulasi gim running yang dimainkan oleh robot.

 

Dalam simulasi tersebut, robot-robot yang bermain gim ini didorong untuk memiliki keputusan dalam mengontrol arah lari. Mereka bahkan bisa memainkan karakter pelari untuk berhenti, atau sekadar membuat laju lari menjadi lebih kencang.

 

"Simulasi kami menunjukkan kalau emosi adalah dorongan terkuat dari alam dan evolusi. Hal ini dengan mudahnya bisa muncul dalam populasi virtual seperti robot," ujar pimpinan penelitian Roger whitaker.

 

Menurutnya, ujicoba ini menandakan bahwa keputusan yang diambil para robot yang ikut ke dalam gim berlari tersebut, memperlihatkan kalau mereka memiliki jenis ikatan emosi yang bisa memengaruhi robot lain, layaknya seperti populasi manusia.

 

 

Ilmuwan: Manusia Bisa Tertarik secara Seksual dengan Robot

 

Ilustrasi Robot (iStockPhoto)

 

Robot yang memiliki emosi juga dibuktikan dari penelitian ilmuwan yang dilakukan beberapa bulan lalu.

 

Dalam penelitian tersebut, robot dinilai bisa memiliki emosi yang mengarah ke orientasi seksual. 

 

Dalam hal ini, mereka mengklaim ketertarikan tersebut sebagai orientasi seksual baru dengan nama "Digisexual".

 

Menurut informasi yang dilansir Telegraph, para ilmuwan bahkan melakukan prediksi orientasi seksual ini akan meningkat seiring berkembangnya teknologi kecerdasan buatan (AI, Artificial Intelligence) pada robot.

 

"Sekarang saja, teknologi sudah menyediakan fasilitas bagi manusia untuk berinteraksi secara seksual. Channel pornografi menyediakan konten 3D yang bisa diakses via Virtual Reality (VR). Ada juga sexbots, asisten virtual yang dikhususkan untuk kegiatan dewasa," kata Profesor Neil Mccarthur, Direktur Pusat Etika Terapan dan Profesional di University of Manitoba, Kanada.

 

"Mungkin sudah saatnya saya mengatakan era seks virtual telah tiba. Dengan segala kecanggihan yang ditawarkan, adopsi orientasi seksual manusia akan beralih. Beberapa dari mereka mungkin sudah menjadi digisexual. Lebih tertarik dengan robot, yang berkaitan dengan teknologi," dia menerangkan.

 

Pernikahan dengan Robot

 

Lilly, wanita asal Prancis yang ingin menikah dengan robot. Dok: dailymail.co.uk

 

"Tanda-tanda" digisexual memang sudah menyeruak sejak beberapa tahun terakhir. Yang paling bikin heboh adalah pernikahan wanita Prancis bernama Lilly dengan robot besutannya.

 

Ia membuat robot yang diberi nama InMoovator tersebut menggunakan printer 3D. Lilly diketahui hidup bersama InMoovator sekitar empat tahun lamanya. Di akun Twitter pribadinya, ia menulis, "Aku Digisexual, kami tidak menyakiti siapa pun, kami sangat bahagia."

 

Lilly dilaporkan sudah bertunangan dengan robot pujaannya dan mengaku akan menikah saat pernikahan manusia-robot legal di Prancis.

 

Wanita ini mengaku, ia menyadari tertarik kepada robot secara seksual saat dirinya masih berusia 19 tahun karena ia tidak suka melakukan kontak fisik dengan manusia. Ia bahkan bersikeras kalau kondisinya ini tidak konyol.

 

Ia beralasan, ini hanya gaya hidup alternatif. "Aku benar-benar hanya tertarik dengan robot," imbuhnya. Namun, Lilly tidak mengatakan secara detail, apakah ia dan InMoovator melakukan hubungan seksual.

 

"Ini hanyalah sebuah hubungan cinta, karena saya tidak suka kontak fisik dengan manusia," ungkapnya.

 

Keluarga dan teman-temannya telah menerima hubungan yang tidak biasa ini, tapi tidak semua orang yang ada di sekitarnya bisa memahami hal tersebut.

(Jek/Isk)

 

Source : liputan6.com